• Papan Nama Sekolah
  • header3

AHLAN WA SAHLAN di Website PAUDQu/TPQ/RTQ AL BUKHORI | Terima Kasih Kunjungannya... Semoga Anda Bahagia dan Diberkahi Allah Hari Ini...Cerdas Tangguh Kreatif Berakhlaqulkarimah

Pencarian

Kontak Kami


PAUDQu/TPQ/RTQ AL BUKHORI

NPSN : 70025779

Perum Griya Asri 2 Blok C RW 032 Ds. Sumber Jaya Kec. Tambun Selatan Kab. Bekasi


info@albukhoriga2tambun.sch.id

TLP : 081298470992


          

Prestasi Siswa

Banner

Statistik


Total Hits : 275791
Pengunjung : 126881
Hari ini : 15
Hits hari ini : 39
Member Online : 0
IP : 216.73.216.66
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

PAHAMI DUNIA ANAK




Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

 

Sebagai seorang guru yang mengajar dan mendidik pada lembaga pendidikan mulai PAUD hingga SD khususnya kelas 1, 2, dan 3, tentu banyak berhubungan dengan anak-anak yang perlu ekstra pengawasan.  Tentu diperlukan bekal keilmuan untuk meminimalisir kekeliruan dalam melakukan treatmen kepada mereka.

 

Ingat!!  Anak bukanlah orang dewasa yang berbentuk mini.  Jangan memperlakukan anak seperti anda memperlakukan orang dewasa.  Anak-anak tetaplah anak-anak, bukan orang dewasa yang berukuran mini.   Mereka memiliki keterbatasan-keterbatasan bila harus dibandingkan dengan orang dewasa.  Selain itu, mereka juga memiliki dunia tersendiri yang tidak akan mungkin serupa dengan dunia orang dewasa.  Dunia mereka adalah dunia yang khas dan harus dilihat dengan menggunakan kacamata anak-anak.

 

Karena itu, menghadapi anak-anak, anda sebagai guru memerlukan tingkat kesabaran yang lebih ekstra, pengertian yang legawa, dan toleransi yang mendalam.  Mengharapkan mereka bisa mengerti sesuatu dengan cepat layaknya orang dewasa, merupakan cara pikir dan sikap yang sangat kurang bijaksana.

 

Selain anak tumbuh secara fisik, dia juga berkembang secara psikis atau secara psikologi.  Tidaklah bijak jika anak yang pada saat kelas 1 terlihat imut dan penurut, setelah kelas 5 atau kelas 6 juga kita tuntut lucu dan imut.  Ada fase-fase perkembangan yang dilaluinya dan anak menampilkan berbagai perilakunya sesuai dengan ciri-ciri yang dialami pada masing-masing fase perkembangan tersebut.  Dengan memahami bahwa anak berkembang, kita tetap siap dan selalu tenang serta bersikap dengan tepat menghadapi berbagai gejala yang mungkin terjadi dan muncul pada setiap tahap  tertentu pada fase perkembangannya.

 

Pada dasarnya, anak-anak senang meniru karena salah satu proses pembentukan perilaku mereka diperoleh dari cara meniru.  Anak-anak yang gemar membaca umumnya adalah anak-anak yang memiliki orang-orang di sekitarnya yang juga gemar membaca.  Mereka meniru ayah, ibu, kakak, teman, guru, atau orang lain yang mempunyai kebiasaan membaca dengan baik.  Dengan demikian anda sebagai seorang guru juga dituntut untuk memiliki kegemaran membaca agar kebiasaan membaca anda ditiru oleh anak-anak didik anda.

 

Anak-anak pada dasarnya adalah kreatif.  Mereka memiliki ciri-ciri yang oleh para ahli digolongkan sebagai ciri-ciri individu yang kreatif.  Apa itu ciri-ciri individu yang kreatif?  Pertama adalah mempunyai rasa ingin tahu yang besar.  Hampir setiap anak apalagi diusia sekolah dasar, mereka memiliki rasa penasaran yang tinggi sehingga selalu bertanya tentang apapun yang ingin diketahuinya.  Mereka tidak peduli apakah pertanyaan yang dilontarkan akan mendapat respon jawaban atau tidak. 

 

Kedua imajinasi mereka sangat tinggi.  Imajinasi anak berkembang seiring dengan berkembangnya kemampuan berbicara.  Kemampuan imajinatif anak merupakan bagian dari aktivitas otak kanan yang bermanfaat untuk kecerdasannya.  Pada anak usia sekolah, imajinasi anak berada pada tahap intensitas paling kuat sehingga memiliki materi ingatan yang paling banyak.  Kemampuan anak berimajinasi akan mengantarkan anak menjadi pemikir kreatif yang tentu saja amat bermanfaat bagi tumbuh kembang anak di masa depan dalam menghadapi dan mencari solusi atas setiap permasalahan yang dihadapinya kelak. 

 

Ketiga berani menghadapi resiko.  Sering kita lihat anak-anak yang bermain menggunakan sarana sekolah tidak mengikuti aturan yang sudah ditentukan.  Misalkan, saat bermain trampolin, anak-anak dengan santainya bersalto ria di atas trampolin padahal sebenarnya tidak diperkenankan melakukan hal tersebut.  Namun, anak-anak tidak peduli dengan resiko yang akan terjadi pada dirinya.  Para ahli menyimpulkan bahwa anak-anak yang terbiasa menghadapi resiko dimasa kecil, secara signifikan mengurangi kemungkinan anak-anak akan mengalami gangguan kecemasan masa kecil.  Dengan adanya sikap berani menghadapi resiko tentu menjadikan anak terbiasa untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

 

Dalam hal ini, guru dan orang tua perlu bekerja sama dan memahami kreativitas yang ada pada diri anak-anak dengan bersikap luwes dan kreatif pula.

 

Dunia anak dunia bermain.  Marilah dengan hati jernih kita melihat dan mengamati dengan sabar aktivitas anak-anak didik anda.  Kegiatan mereka di sekolah atau di rumah cenderung tidak jauh dari bermain.  Pada dunia anak, kegiatan bermain, belajar, dan bekerja merupakan satu sistem yang tidak terpisahkan.  Bermain merupakan cara efektif bagi anak-anak untuk menghadapi masa depan.  Sebab, dengan bermain, anak-anak dapat terasah dalam segi ketrampilan, pengetahuan, emosi, sosial, intelektual, juga kreativitasnya.

 

Semakin banyak interaksi yang dilakukan anak melalui permainan yang mengakomodir dan mengoptimalkan indera-indera mereka, semakin tinggilah pengaruh positif permainan tersebut.  Dengan bermain, diharapkan seluruh indera anak berfungsi secara optimal.

 

Namun, sebagai guru, anda juga perlu waspada.  Tidak semua kegiatan bermain dapat dikategorikan “bermain”.  Sebuah kegiatan baru dapat disebut “bermain” jika dalam melakukan aktivitas tersebut, si anak merasa nyaman, senang, tidak merasa terpaksa, bebas berekspresi dan berimajinasi, serta tidak terbebani target yang harus dicapai.

 

Fungsi dan manfaat bermain di antaranya:

  • Menimbulkan kegembiraan sehingga memicu perilaku positif lainnya seperti senang berkreasi.
  • Meningkatkan respon anak terhadap hal-hal baru.
  • Melatih anak menyelesaikan atau mengatasi masalah/konflik.
  • Sarana untuk bersosialisasi dan melatih fungsi mental.
  • Melatih kepekaan dan empati.
  • Sarana mengekspresikan perasaan .
  • Membentuk kepribadian anak.
  • Mengembangkan rasa percaya diri.
  • Menyalurkan energi.
  • Merangsang imajinasi.
  • Melatih perkembangan fisik, emosi, dan sosial.
  • Sarana hiburan.

 

Pada akhirnya, guru harus menyadari bahwa semua anak adalah "cerdas" dengan segala potensi yang melekat pada dirinya.  Hanya terkadang kita sebagai guru maupun orang tua sering melihat anak-anak dengan "kacamata" orang dewasa.  Sehingga seringkali potensi anak justru terpendam karena kita memperlakukan anak sesuai dengan kebutuhan kita.  Padahal seharusnya adalah kita memperlakukan anak sesuai dengan kebutuhannya.

Semoga tulisan ini bermanfaat buat teman-teman guru dan juga orang tua.

 

Wassalam.

Salam Perjuangan Tanpa Batas Al Bukhori

 

#tulisan diambil dari buku Menjadi Guru Hati karya Imam Santoso




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :





   Kembali ke Atas