Lingkaran Sukses Guru Hati (part 2)

2. Keyakinan Memberdayakan
Terdapat dua kategori keyakinan yaitu keyakinan yang memberdayakan atau membangun dan keyakinan yang tidak memberdayakan atau meruntuhkan. Keyakinan memberdayakan akan mengembangkan keseimbangan hidup yang kita miliki sementara keyakinan tidak memberdayakan akan membatasi perkembangan hidup kita.
Luangkan waktu untuk merenungkan segala keyakinan yang kita pegang, baik yang memberdayakan maupun yang tidak memberdayakan. Lalu tuliskan dalam selembar kertas dengan pedoman :
- keyakinan khusus jika - maka, seperti "Jika aku secara konsisten dan sabar mengerahkan segala kemampuanku, maka si Fulan akan mampu tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai harapan," atau "Jika aku tidak membimbingnya dengan baik, maka si Fulan akan kesulitan dalam memahami instruksi maupun materi pelajaran."
- keyakinan global, seperti keyakinan bahwa setiap anak didik pada dasarnya pandai atau semua anak didik pada dasarnya bodoh.
Setelah menuliskannya, kita akan mengetahui mana yang lebih mendominasi keyakinan kita, apakah keyakinan yang memberdayakan atau keyakinan yang tidak memberdayakan? Kemudian putuskan keyakinan memberdayakan apa saja dari daftar tersebut yang selaras dengan impian kita.
Hasil apapun yang kita capai dalam kehidupan, sesungguhnya merupakan hasil keputusan kita sendiri. Kita memiliki pilihan untuk memutuskan apa yang menjadi keyakinan kita. Oleh karena itu, fokuslah pada keyakinan yang memberdayakan.
3. Menghancurkan Limited Belief
Keyakinan tidak memberdayakan sesungguhnya adalah mental block yang menghalangi kita mencapai sesuatu tujuan yang kita inginkan.
Ciri-ciri limiting belief ini diantaranya adalah perasaan malas, tidak enak hati, suka menunda pekerjaan, ragu-ragu, cemas, merasa tertekan, takut, bingung, dan sebagainya.
Keyakinan kita akan menentukan bagaimana cara kita bersikap. Cara kita bersikap menentukan cara kita bertindak, sedangkan cara kita bertindak menentukan bagaimana kita menjalani kehidupan. Apabila kita mengalami banyak kesulitan ataupun masalah dalam kehidupan, tidak menutup kemungkinan bahwa sumbernya adalah limiting belief yang secara tidak sadar telah kita terapkan dalam sikap, tindakan, dan kehidupan kita sehari-hari.
Tiga hal yang paling umum dalam limiting belief atau keyakinan yang membatasi berpusat di seputar :
- hopeless : tidak memiliki harapan sama sekali
- helplessness : tidak mampu tanpa pertolongan orang lain.
- worthlessness : mampu namun tidak layak.
Demi mencapai tujuan atau impian yang diharapkan, guru perlu berpindah dari limiting beliefs menuju ke strong belief yang berisi harapan akan masa depan, perasaan memiliki kemampuan, dan rasa tanggungjawab serta keyakinan bahwa dirinya berharga.
4. Melakukan Afirmasi
Afirmasi merupakan sesuatu yang kita masukkan atau proyeksikan ke dalam pikiran bawah sadar atau sugestif atau mempengaruhi. Biasanya afirmasi berupa kata-kata atau kalimat positif yang mengandung motivasi diucapkan secara berulang-ulang denga penuh keyakinan. Melalui kata-kata positif tersebut, nantinya otak secara tidak langsung akan terdoktrin sehingga sudut pandang obyek yang mengalami afirmasi akan berubah. Yang sebelumnya terucap dan terpikir "tidak mungkin" menjadi "mungkin". Yang sebelumnya merasa "sulit" menjadi "mudah", dan lain sebagainya. Sehingga guru akan selalu berpikiran positif terhadap segala permasalahan yang dialaminya terutama terhadap anak-anak didik. Afirmasi dapat mengubah sudut pandang guru dalam menghadapi dan menyikapi kehidupan dan lingkungan sekitar. Alhasil, afirmasi akan membuat pikiran kita menjadi lebih positif.
.........
salam guru merdeka
tobe continue
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- GURU, antara Dedikasi dan Gratifikasi
- KERJASAMA atau BEKERJA BERSAMA-SAMA?
- GURU, PRIBADI YANG DIRINDU
- PERBAIKI CARA MENILAIMU...
- MENGAPA MENJADI GURU?
Kembali ke Atas
