Cerita Rindu

Setiap manusia diberikan kesempatan untuk menciptakan sejarah dan kebermanfaatan hidupnya. Kita memang tidak diberi kemampuan untuk memilih dimana kita hendak dilahirkan, siapa orang tua pilihan kita. Kita pun tidak bisa memilih bagaimana cara kita dilahirkan. Sejarah kelahiran bukanlah menjadi urusan kita, biarlah dia tercipta dengan skenario Allah SWT.....
Namun, kita memiliki kesempatan untuk memilih dan menciptakan sejarah kehidupan hingga akhirnya berkalang tanah menuju keharibaan Illahi. Akankah kita di kenang dan menjadi sumber cerita dengan segala kebaikan yang telah kita buat? Akankah kita selalu menjadi pedoman orang lain dengan segala manfaat yang telah kita ukir saat belum berkalang tanah? Sejarah kematian kita, mutlak menjadi tanggungjawab kita. Orang-orang sekitar hanya menjadi pemanis dalam kehidupan kita atau menjadi pembuat duka dalam kehidupan kita...
Menjadi seorang guru ataupun pendidik, mungkin akhir dalam sejarah kehidupan kita. Karena itu nikmatilah kehidupanmu saat ini. Mungkin saat ini profesi guru masih menjadi panggilan kerja untuk dirimu. Namun, seiring dengan perjalanan hidupmu berinteraksi dengan para anak didik rasa itu akan berubah. Percayalah... perlahan namun pasti profesi guru bukan lagi menjadi panggilan kerja bagimu, profesi itu akan melonjak drastis mengikuti ketulusan hatimu. Seiring berjalan guru akan menjadi pangilan hatimu. Bila segala sesuatu aktivitas sudah terkendalikan dengan hati yang tulus, maka lihatlah dan saksikanlah akan banyak terlahir anak-anak didik yang dahulunya pernah bersamamu kelak akan menjadi seseorang yang memang engkau harapkan dalam doa dan pikiran yang tulus.
Guru bukanlah profesi yang semudah orang lain memandang dari kejauhan. Guru bukanlah aktivitas sekedar mengajar tapi lebih dari itu, yang utama dari guru adalah ketulusan untuk mendidik. Yup...., setiap orang memiliki kemampuan untuk mengajar meskipun dengan segala keterbatasannya. Namun, tidak semua orang memiliki hasrat yang ikhlas untuk mendidik. Karena itu profesi guru tidaklah melekat dengan pengajarannya saja tetapi yang lebih utama adalah melekat dengan cara mendidiknya.
Mengajar lebih mengedepankan kemampuan akal dan pikiran untuk membekali dan mempersiapkan anak-anak didik menjalani kehidupan yang sesungguhnya di dunia ini. Sedangkan mendidik lebih mengutamakan pendekatan dan kemampuan hati dalam mempersiapkan anak-anak didik untuk menjadi khalifah fil ardh yang mampu menjadikan dirinya sebagai orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Jadikanlah anak-anak didik kita menjadi seseorang yang lebih mengutamakan dan menggunakan kecerdasan hatinya di atas kecerdasan akalnya. Kemampuan mengelola kecerdasan akal namun tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola kecerdasan hati kelak akan melahirkan orang-orang yang pandai tetapi tidak memberikan manfaat kepada orang lain bahkan menimbulkan kerusakan, kecurangan, ataupun kemudharatan diberbagai hal.
Bagaimana cara menumbuhkan kecerdasan hati? akan dituliskan secara lengkap dalam artikel selanjutnya. Untuk memulainya, marilah kita latih agar anak-anak didik kita sebelum memulai pembelajaran yang notabene merupakan asupan akal, buatlah kegiatan rutin atau suatu pembiasaan yang lebih mendekatkan para anak didik kepada Sang Pencipta. Karena Allah lah yang menciptakan kita dan DIA pulalah yang mampu memberikan kecerdasan hati serta mampu membolak balik hati kita. Contoh pembiasaan misalnya dengan melakukan sholat dhuha terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas belajar lainnya. Ataupun melantunkan asmaul husna di ruang-ruang kelas sebelum pembelajaran dimulai, atau bisa juga membaca iqro/ummi atau Al qur'an sebelum di mulainya kegiatan yang lain.
Alhamdulillah,... Al Bukhori sudah melakukan pembiasaan-pembiasaan tersebut...





Puisi Rindu Permata Kecilku
Saat ku memandang wajahmu dalam bingkai kenangan
Berbagai cerita mengalir dalam pikiran
Perlahan hati mulai terusik oleh waktu yang silam
Masa-masa penuh keceriaan
Masa-masa penuh canda dan tawa
masa-masa penuh bahagia meski terkadang terselip duka
Waktu pertama kau datang masih dalam pelukan bunda
Dengan wajah yang masih polos dan ragu
Kau bersembunyi di belakang tubuh ayah bundamu
Seakan dirimu hendak berkata, "Ibu,aku takut".
Kami sambut takutmu dengan senyum ceria
Kami dekati dirimu dengan selimut cinta
Lalu perlahan kau lepaskan pegangan bundamu
Mulailah engkau ikuti kami dan berbaur dengan bahagia
Umi....umi..., ustadzah....ustadzah
Ah...panggilan itu masih terngiang di telinga
Meskipun ragamu sudah menjauh dari kami
Lalu tiba-tiba dirimu bersandar pada bahuku
Terkadang kepalamu rebah di pahaku, sambil berkata "Umi, aku ingin umi jadi ibuku."
Lalu aku berkata, "memangnya kenapa kamu pengen Umi jadi Ibumu?"
Kemudian engkau menjawab, "Aku mau dielus-elus rambutnya sama umi sambil diceritakan dongeng."
Hmmmm.... peristiwa yang sederhana dan biasa namun ternyata berarti buat dirimu
Kami rindu padamu
Terkadang kepolosan kalian mengajarkan arti kehidupan bagi kami
Pertengkaran kalian, cekcok kalian hanyalah bumbu pertemanan
Satu dua hari segera mencair bahkan terlupakan
Nak,....
Masihkah engkau ingat saat kalian dhuha bersama kami?
Masihkah engkau ingat kebiasaan infaq yang kami contohkan?
Kami berharap dalam doa
Semoga kalian tetap melaksanakannya meskipun tiada bersama kami lagi...
Singgahlah nak,..
Menepilah sejenak di sini
Di tempat ini, di Al Bukhori ini
Kami rindu kalian...
Bila saatnya tiba dan Allah perkenankan
Kita akan bercerita tentang masa-masa indah yang sudah terlewati
namun masih membekas di hati kami..
Meski dirimu telah jauh dari kami
Namun doa kami selalu menyertaimu...
Jadilah anak-anak yang tangguh, cerdas, kreatif, dan berakhlaqulkarimah.....
Al Bukhori merindukanmu.....
Kuingin saat ini, engkau ada di sini
Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi
Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Hati ini hanya rindu............
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- GURU, antara Dedikasi dan Gratifikasi
- KERJASAMA atau BEKERJA BERSAMA-SAMA?
- GURU, PRIBADI YANG DIRINDU
- PERBAIKI CARA MENILAIMU...
- MENGAPA MENJADI GURU?
Kembali ke Atas
