Pengabdian Sang Guru (Bagian 2)

Bismillahirrahmanirrahiim,
Assalamu’alaikum,
Alhamdulillah,
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT. atas segala Nikmat, Taufik dan Hidayah-Nya yang telah dilimpahkan dan kita rasakan bersama. Shalawat teriring salam selalu tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabat Beliau dan hingga seluruh pengikutnya sampai akhir zaman. Semoga kita semua kelak mendapatkan syafa’at pada hari akhir kelak. Aamiin...
Tiada terasa hari ini kita sudah memasuki tahun 2021. Hari yang pertama di awal tahun masehi yakni Jum’at, 1 Januari 2021. Semoga menjadi keberkahan untuk menjalani hari-hari selanjutnya. Penulis menulis di hari ini bukan berarti merayakan tahun baru, karena sejatinya tahun baru penulis adalah 1 Muharram. Bukan juga berarti menentang atau memusuhi mereka yang merayakan atau menikmati tahun barunya di 1 Januari. Biarlah semua menjadi keyakinan dan tanggungjawab masing-masing kepada Tuhannya.
Setiap akan mengawali sesuatu yang baru, seperti mengawali tahun masehi yang baru selayaknya setiap insan di dunia selalu mereflesikan dirinya sendiri tentang apa yang telah dilakukan selama satu tahun sebelumnya, dan bagaimana perencanaan diri di masa mendatang. Sebagai seorang guru, merefleksikan dirinya sendiri mendekati fardhu a’in. Karena hasil refleksi tentu akan menjadikan dirinya lebih berkualitas terhadap hidupnya. Dan jika diri seorang guru meningkat kualitas hidupnya tentu secara tidak langsung akan berdampak kepada peningkatan yang terjadi terhadap anak-anak didiknya.
Berikut merupakan sedikit dari kelompok guru yang selalu menghiasi dunia pendidikan. Mari kita renungkan bersama, dimanakah posisi kita pada tahun-tahun sebelumnya? Akankah kita mau berubah? Setiap orang pasti memiliki keinginan ataupun kemauan untuk berubah menjadi lebih baik. Namun hanya sedikit dari mereka yang berhasil melakukannya. Mengapa? Karena untuk berubah tidak hanya sebatas pada kemauan saja, tetapi juga harus dilengkapi dengan ikhtiar yang pada prosesnya bakal menghadapi tantangan dan ujian.
- Guru Robot; layaknya robot yang terbuat dari mesin, guru model robot adalah sosok guru yang bekerja persis seperti robot. Mereka hanya masuk kelas, mengabsensi, mengajar, lalu pulang. Fokus mereka hanya bagaimana materi pelajaran tersampaikan ke anak didik. Tiada kepedulian mereka terhadap anak didik yang mengalami kesulitan terhadap materi tersebut. Jika kepada anak didik yang menjadi tanggungjawabnya saja diperlakukan seperti itu, lantas bagaimana model guru robot dapat peduli terhadap masalah-maslah rekan sejawatnya?apalagi terhadap masalah-masalah sekolah. Guru jenis ini biasanya sering menggunakan ungkapan-ungkapan seperti; “Wah, itu bukan masalahku, tapi masalahmu. Jadi silakan selesaikan sendiri!” atau “Maaf, saya tidak dapat membantu sebab ini bukan tugas saya...”
- Guru Materialisme; guru yang selalu memperhitungkan segala sesuatu yang dikerjakannya dengan untung atau rugi persis seperti praktek jual beli. Dan yang lebih menyedihkan adalah mereka selalu berpedoman kepada hak yang mereka terima, barulah mereka akan mengerjakan kewajibannya. Itupun sesuai dengan hak yang mereka terima. Kesan awalnya adalah bahwa mereka profesional, karena mengerjakan kewajiban sesuai dengan hak yang mereka terima. Namun, secara perlahan mereka akan terjebak dalam situasi penuh kesombongan dalam bekerja sehingga pada akhirnya tiada manfaat dan keberkahan dalam pekerjaannya. Beberapa ungkapan yang mungkin terdengar dari guru jenis ini antara lain
- “Bagaimana saya mau total mengajar, jika cuman dibayar sekian saja, jangan harap ya!”
- “Percuma mau kreatif mengajar, sekolah saja tidak pernah mengapresiasikan hasil kerja saya.”
- “Kalau sekolah mau saya kreatif dalam mengajar, yah turutin dong permintaan gaji yang saya ajukan.”
- “Kenapa tugas saya lebih banyak dari dirinya? Padahal gaji saya lebih sedikit dari dia.”
- “Oke, saya mau mewakili sekolah mengikuti pelatihan itu tapi tolong perhitungkan waktu dan tenaga yang saya keluarkan.”
- Dan lain sebagainya
- Gurunya Manusia; yaitu guru yang memiliki keikhlasan dalam mengajar dan belajar. Guru yang memiliki target dan strategi dalam pekerjaannya dengan tujuan akhir adalah bagaimana membuat para anak didiknya memahami materi-materi yang diajarkannya. Guru yang ikhlas, akan berinstropeksi apabila ada anak didik yang belum memahami materi. Guru yang selalu meluangkan waktu untuk terus belajar sebab mereka paham bahwa profesi guru tidak boleh berhenti untuk belajar. Guru yang keinginannya kuat untuk terus menjemput ilmu melalui berbagai pelatihan dan mengikuti kegiatan pengembangan kompetensi. Gurunya manusia juga manusia yang membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, berbeda dengan guru materialistis, gurunya manusia selalu menempatkan penghasilan sebagai akibat yang akan dia peroleh karena menjalankan kewajibannya, yakni keikhlasan dalam mengajar dan belajar.
Sudah banyak contoh yang kita dapatkan, bagaimana rezeki seorang guru tiba-tiba diguyurkan oleh Allah SWT. melalui pintu yang tiada disanga-sangka akibat guru tersebut terus belajar dan belajar. Banyak guru yang mendapatkan rezeki karena ketekunan menulis buku ajar untuk anak didik di sekolahnya. Selain itu, juga ada guru yang menulis kisah-kisah unik yang terjadi di dalam kelasnya selama dia mengajar dan belajar. Allah Maha Mengetahui segala perjuangan hamba-hambaNYA yang bertawakal.
Sekarang, mari bersama-sama kita renungkan sejenak. Pikirkan dengan rileks dan jujur, lakukan instropeksi! Refleksikan diri kita. Saya termasuk guru jenis yang mana? Mari kita songsong awal tahun Masehi ini dengan penuh optimisme. Selanjutnya kita isi hari-hari mendatang dengan peningkatan kualitas diri yang konsisten. Semoga Allah SWT. meridhoi dan memberkahi perjuangan kita semua untuk menjadi lebih baik.....Aamiin Yaa Rabbal’Alamiin.....
Wassalamu’alaikum,
#ReferensiGurunyaManusia,MunifChatib
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- GURU, antara Dedikasi dan Gratifikasi
- KERJASAMA atau BEKERJA BERSAMA-SAMA?
- GURU, PRIBADI YANG DIRINDU
- PERBAIKI CARA MENILAIMU...
- MENGAPA MENJADI GURU?
Kembali ke Atas
